Responsive Ad Slot

Dituding "Sunat" Dana Desa, Kades Mesjid: Itu Fitnah!

Sabtu, 08 April 2017

Keuchik (kepala desa, red) Mesjid Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Hasanuddin, membantah tudingan terhadap dirinya terkait penyelewengan anggaran dana desa, hal itu seperti dituduhkan oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat, Jum'at (7/4/2017). 

Keuchik Hasanuddin mengatakan, pembangunan jembatan kecil yang dianggap fiktif tersebut bukanlah tidak dikerjakan. Melainkan selama ini menurutnya karena alat berat (beko) belum sempat melakukan penggalian bersamaan dengan jembatan kecil yang sudah selesai kegiatan. Ia mempertanyakan masyarakat yang mengatasanamakan oleh sejumlah tokoh tersebut. 

"Bukan tidak dikerjakan, tapi saat itu ada yang larang bangun jembatan itu, fiktif yang dituduh itu bagaimana? Laporan saja belum dibuat karena belum selesai kegiatan, dan kami berencana untuk memindahkan rencana bangun jembatan itu", ungkap Keuchik Hasanuddin.

Lebih lanjut Ia menjelaskan terkait pembelian tanah aset desa yang dianggap bermasalah, menurutnya pembelian tanah tersebut sudah sesuai aturan. Buktinya, pada saat dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat saat itu tidak ada yang ditemukan bermasalah. Sebelum pembelian tanah itupun, kata dia telah dilakukannya musyawarah bersama lembaga di desa setempat.

"Saat turun Inspektorat tidak masalah, tidak ada yang seperti dituding itu", sebutnya.

Bantahan Keuchik Hasanuddin menyangkut dengan anggaran keagamaan, anggaran untuk Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) itu kata dia memiliki aturan penyerahannya. Menurutnya, penyerahan dana tersebut harus menurut item kegiatan. Ia merinci dana sebanyak Rp. 10 juta itu terbagi dalam beberapa item kegiatan PHBI, misalnya kebutuhan suatu kegiatan, dana yang diberikan untuk kegiatan itu.

"Tapi ini diminta keseluruhannya, ini harus ada proses pengajuan, tidak boleh diserahkan semuanya, dan sudah pernah saya serahkan tahun lalu, tapi tidak ada pertanggungjawaban dari panitia", ungkapnya.

Sedangkan pelaksanaan kegiatan pembangunan saluran yang tidak mencukupi volume perencanaan, Keuchik Hasanuddin menjelaskan hal demikian sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB). Sedangkan kubikasi itu dikatakan, tidak ada yang berkurang.

"Volumenya cukup, yang diplastel itu tidak masuk dalam laporan, karena yang di LPJ kan saluran yang dibangun dari dasar, kubikasi tetap cukup", jelasnya. 

Pembangunan bok penampungan air yang dituduh berbeda dengan perencanaan, dikatakannya pada saat usulan di masyarakat memang dua, namun yang diterima pada saat pengajuan hanya satu yang diperbolehkan. 

"Dikurangi bok air karena untuk pembelian bibit padi dan pupuk, ini kan sudah menjadi fitnah bagi saya", tegas Keuchik itu.

Menyangkut dengan tudingan dirinya tidak pernah melakukan rapat dengan masyarakat, Keuchik Hasanuddin mengakui tudingan tersebut tidak benar. Sebab ia selalu melakukan rapat selama tiga bulan sekali, musyawarah yang dilakukan Keuchik, mulai dari musyawarah dusun hingga musyawarah desa.

"Hanya yang menuding saja yang tidak pernah menghadiri rapat, dan kami memiliki daftar hadir rapat", ungkap Keuchik Hasanuddin.

Sementara, menyangkut dengan tidak adanya papan informasi kegiatan, yang seharusnya dipasang pada saat pelaksanaan, Keuchik Hasanuddin yang didampingi Sekretaris desa (Sekdes), berkilah papan informasi akan ia pasang pada saat seluruh kegiatan sudah selesai pelaksanaan. 

"Bukan tidak dipasang, tapi akan dipasang setelah 100 persen pelaksanaan kegiatan, pemasangan itu untuk LPJ, karena difoto, dan desa-desa lain pun juga tidak ada", katanya.



Dalam hal pembangunan jembatan kecil, seperti yang tuding oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat, lantaran sudah masuk ke dalam RAB, yang selama ini belum dikerjakan. Pada saat Istanapos.com, turun ke lokasi Jum'at kemarin, jembatan tersebut sudah mulai dikerjakan kembali.

Sebuah alat berat terlihat sedang menggali lokasi itu untuk kelanjutan pembangunan jembatan yang sudah masuk kedalam perencanaan.

Rep: Muhammad Taufik
Don't Miss