Responsive Ad Slot

Keuchik di Abdya Diduga Sunat Dana Desa

Kamis, 06 April 2017

Sejumlah tokoh masyarakat desa Mesjid kecamatan Tangan-Tangan kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), mendesak pihak terkait untuk memproses Keuchik (Kepala Desa) setempat, yakni Keuchik dengan inisial H dalam hal ketidak transparan penggunaan dana desa kepada masyarakat.

Sebab, pengakuan mereka, selama Keuchik tersebut menjabat, terdapat banyak persoalan penggunaan anggaran tanpa adanya pertanggungjawaban kepada masyarakat. Padahal, sesuai aturan yang ada, penggunaan dana desa harus diketahui oleh setiap masyarakat setempat, namun hal itu tidak dilakukannya oleh Keuchik H. 

Sehingga, masyarakat disana sudah merasa tidak percaya lagi kepada Keuchik H, karena pada saat masyarakat meminta agar Keuchik mengadakan rapat umum bersama masyarakat, namun Keuchik tidak pernah menggubris, dan hal tersebut telah terjadi sejak tahun 2013 lalu.

"Kami juga sudah mengirim sebuah surat kepada Bupati Jufri Hasanuddin, meminta agar Keuchik kami diproses secara hukum, tapi hingga kini tak ada jawaban", ungkap M. Hamzah, tokoh masyarakat desa Mesjid, Rabu (5/4/2017). 

Lanjut Hamzah, laporan yang ditanda tangan seratusan lebih masyarakat kala itu, yakni persoalan pembelian tanah untuk aset desa, pada saat itu Keuchik H membeli tanah mengunakan anggaran desa tanpa terlebih dahulu bermusyawarah dengan masyarakat. 

"Anehnya, tanah desa yang dibeli itu dipinggir jalan, ditukar dengan tanah pribadinya yang jauh dari jalan", tambah Hamzah dengan nada kesal sembari menunjukan kearah tanah kebun yang ada pohon kelapa.

Sementara itu, Samsul tokoh masyarakat setempat sangat menyesalkan hal yang dilakukan Keuchik H, sebab tertutupnya informasi penggunaan anggaran, serta pelaksanaan kegiatan dilapangan pun tidak sesuai dengan yang direncanakan. 

"Papan informasi proyek tidak ada, kegiatan asal jadi, dan banyak hanya diplastel saja", sebut Samsul.

Tidak sampai disitu, Samsul juga mengatakan Keuchik setempat telah menggelapkan anggaran untuk keagamaan, hal itu pengakuan nya bahwa Keuchik H juga mengakui bahwa uang tersebut telah digunakan dan berjanji akan segera mengembalikan. 

"Dan itupun setelah didesak dihadapan masyarakat, tapi hingga saat ini belum juga ditepati janjinya", akui Samsul. 

Hal yang sangat menyolok katanya, pembuatan bak penampung air yang diketahui Samsul, seharusnya dua namun yang terealisasi hanya satu, begitupun pembangunan jembatan kecil, seharusnya jembatan tersebut juga dua sesuai dengan RAB. 

"Tapi jembatan didepan rumah Tgk Nyak Umar tidak juga dibangun, dan itu jelas fiktif", katanya. 

Hal serupa juga disampaikan Anas, kepala dusun (kadus) dalam desa tersebut dan anggota tuha pheut (4) Syahbaron, mereka merasa atasannya tersebut telah menyalahgunakan jabatan sebagai Keuchik dalam hal kepentingan pribadi dan keluarga, sebab, ketidak terbukaan Keuchik terhadap mereka memang telah lama terjadi, namun akuinya, kadus dan anggota tuha pheut tersebut tidak berani menyampaikan pada orang lain. 

"Ka na dikeutok dada, bahwa Keuchik hana so beurani peutron meunyoe mantong Jufri Bupati, (Sudah pernah diketok dada, bahwa Keuchik tidak ada yang berani turunkan jika Jufri masih Bupati Abdya)", ucap Kadus Anas dan di iyakan Syahbaron sembari mengatakan memang sudah lama tidak dilibatkan lagi dalam rapat desa. 

Rep:  Muhammad Taufik
Don't Miss