Responsive Ad Slot

Mengulik Bahaya Gill Net dan Penunjukan Busyro Sebagai Staf Menteri Susi

Kamis, 18 Mei 2017

Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mempopulerkan alat tangkap Gill Net sejatinya melanggar Konvensi Hak Asasi Manusia (HAM) karena PBB sendiri setelah tahun 1991 sudah melarang seluruh Negara untuk menggunakan Gill Net. Nengapa Susi Pudjiastuti populerkan alat tangkap itu?

Karena tidak mengerti tentang hukum HAM? Lebih tragis lagi Susi menunjuk Busyro Muqoddas seorang mantan Ketua KPK RI menjadi staff ahli khusus Komisi Perlindungan dan Hak Asasi Manusia di bidang Perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia – Miris, rakyat menangis, nelayan meraung-raung, mereka hanya sibuk bagi kue-kue kekuasaan dari para pandir-pandir.

Menurut Elizabeth Brown dalam tulisannya berjudul "Fishing Gear 101: Gillnets - Entanglers" termuat pada berbagai situs, mengatakan jaring insang adalah dinding jaring yang putih besar serta panjang bersifat menggantung secara vertikal di air. Mengapung di bagian atas jaring, sementara bobot berada di bagian bawah jaring.

Jaring terbuat dari garis monofilamen transparan, sehingga ikan dan hewan lainnya tidak dapat melihatnya. Nelayan memvariasikan ukuran jaring atau ukuran lubang tergantung pada ukuran spesies yang ingin mereka tangkap.

Ukuran lubang jaring kecil digunakan saat menargetkan spesies kecil dan ukuran lubang jaring besar digunakan saat menargetkan spesies besar. Ukuran lubang bersih dirancang agar cukup besar agar kepala ikan melewatinya, tapi bukan bodinya. Akibatnya, saat ikan berenang ke jaring mereka dilibatkan oleh insangnya.

Gill Net sering terdiri dari banyak dinding individu yang diikat. Sebelum tahun 1991, ketika PBB melarang Gill Net drift berskala besar di laut lepas, jaring ini membentang hingga 40 mil panjangnya. Seluruh Negara dan dunia mengecam penggunaan alat ini, karena menyakitkan perasaan masyarakat dunia dan menimbulkan konflik berkepanjangan, akhirnya Persyarikatan Bangsa-Bangsa tahun 1992 hingga kini melarang penggunaan alat tangkap Gill Net.

Hari ini, Gill Net terpanjang membentang sejauh satu sampai dua mil (yang masih cukup panjang) dan biasanya tingginya 10-50 kaki. Nelayan bisa meninggalkan jala ini di air selama beberapa jam sampai beberapa hari untuk mendapatkan kuota ikan yang lebih banyak.

Selain itu, bahan Gillnet juga sering dipakai untuk pancing di sekitar laut lepas dan perairan pantai pada kedalaman yang berbeda, seperti:

(1) Jika jaring insang ditangguhkan di bagian atas atau pertengahan kedalaman air, maka disebut Gillnet tengah air atau jaring hanyut. 

(2) Jika jaring insang dipasang di dasar dasar laut, baik dengan cara menimbangnya atau menancapkannya ke dasar laut, itu disebut jaring insang bawah.

Bagaimana Gillnet mempengaruhi ikan yang ada samudra atau laut?, Gillnet dirancang untuk menangkap ikan dengan ukuran tertentu, namun bukan spesies yang spesifik. Para nahkoda dan ABK pemburu ikan besar sering melibatkan banyak orang untuk menangkap banyak ikan yang nelayan kecil tidak bisa menangkapnya.

Yang lebih satir dan kejam dari Gill Net ini adalah melibatkan jarring untuk serta merta menangkap hewan laut besar, termasuk paus, anjing laut, kura-kura laut, burung laut, dan hiu sehingga banyak di antaranya terancam punah, sebagian besar penyebabnya alat tangkap Gill Net. Tangkapan yang tidak diinginkan ini disebut "bycatch".

Seluruh masyarakat dunia diberbagai Negara menganggap Gillnet memiliki dampak "bycatch" yang sangat luar biasa pada mamalia laut, kura-kura laut, burung laut, dan hiu manapun. Gillnet sering disebut sebagai dinding kematian.

Ketika hewan laut besar berinteraksi dengan Gillnet, mungkin terjerat di sekitar kepala, mulut dan anggota badan. Karena jaring terbuat dari bahan yang sangat kuat, hampir tidak mungkin binatang-binatang itu lolos. Garis jaringnya juga sangat tipis dan tajam dan bisa dipotong jauh ke dalam daging hewan. Maka hal ini bisa menyebabkan infeksi, gerakan terbatas, atau kehilangan anggota badan mamalia laut.

Jika hewan yang membutuhkan udara untuk bernafas (misalnya kura-kura laut, mamalia laut, burung laut) tidak dapat mencapai permukaan untuk waktu yang lama, mereka akan tenggelam. Dan bahkan jika nelayan tidak dapat membebaskan mereka sebelum tenggelam, tentu kerusakan terjadi sehingga menyebabkan jaring insang mamalia dapat mengganggu kemampuan mereka untuk bernafas, makan atau berenang, sehingga secara perlahan - lahan menuju kematian.

Beberapa contoh bahaya yang terjadi di sekitar wilayah Amerika Serikat dan dunia Eropa lainnya yang dapat diakibatkan alat tangkap Gillnet seperti:

1) Gillnet bagian bawah laut AS yang menargetkan ikan cod, pollock dan ikan lainnya, semacama menjemput kematiannya kalau bertemu alat tangkap ini. Selain itu, bukan hanya ikan pernah terjadi telah membunuh lebih dari 16.000 orang yang ada di kapal pesiar sejak tahun 1990, karena faktor tidak bisa melewatinya sehingga terkena jarring dan melilit dibagian kapal yang menyebabkan kapal tidak bisa berjalan.

2) Selain itu, Gillnet dalam daftar bahayanya sering membunuh ikan bungkok, Paus Atlantik Utara, ikan todak, hiu perontok, paus sperma, lumba-lumba, tuna sirip biru, singa laut, Kura-kura laut dan hiu non-target lainnya yang terbukti bahwa Gillnet membunuh banyak spesies yang menjadi perhatian dunia termasuk mamalia yang dilindungi oleh pemerintah dan terancam punah.

3) Alat Tangkap Gillnet kalau mengambil contoh pada skala kecil di lepas dipantai Baja California dan Meksiko yang memiliki banyak spesies penyu laut, juga ikut tewas dalam jumlah ribuan kura-kura laut setiap tahunnya.

Perikanan alat tangkap Gillnet bagus digunakan kalau untuk menargetkan spesies seperti salmon atau bass bergaris di perairan pesisir (misalnya teluk, muara sungai, atau sungai). Dengan kecenderungan memiliki potensi lebih rendah untuk berinteraksi dengan mamalia laut, burung laut, hiu, dan kura-kura. Namun, dibagian wilayah perairan perikanan salmon Pasifik Utara, kadang-kadang menangkap dan memangsa nyawa burung laut dan mamalia laut.

Karena Gillnet memiliki batu pemberat hingga dasar laut, dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada habitat mamalia bawah laaut. Jika terjerat pada struktur fisik atau biologis, seperti batuan, karang, spons, atau tanaman air, maka dapat menghancurkan atau mencabutnya. Ada potensi kerusakan terbesar saat nelayan mengangkut jaring tersebut.

Namun, Gillnet di dasar laut akan menyebabkan kerusakan habitat laut dibandingkan roda gigi paling bawah dari alat tangkap pukat misalnya. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi efek negatif alat tangkap ini ?.

Ada beberapa modifikasi roda gigi yang dapat membantu mengurangi banyaknya spesies yang menjadi perhatian petugas sosialisasi alat tangkap tangkap Gillnet Fisheires yang dibentuk oleh KKP RI. Bahwa Pingers yang terdapat di Gillnet adalah alat senar kecil yang dipasang di Gillnet untuk mengurangi "bycatch" membahaya mamalia laut.

Pingers mengeluarkan suara bernada tinggi setiap beberapa detik, yang memperingatkan mamalia laut bahwa ada sesuatu di depan dan menghalangi mereka untuk terlalu dekat dengan jaring. Tetapi kebanyakan ikan tidak mendengar suara bernada tinggi yang dikeluarkan pingers dan karenanya tidak terpengaruh.

Kalau di Amerika Serikat sendiri mewajibkan penggunaan pingers diperangkap alat tangkap Gillnet di bagian Timur Laut AS maupun alat tangkap jarring yang bersifat hanyut di wilayah perairan Negara California.

Para ilmuwan telah menemukan metode bahwa ketika pingers dapat mengurangi _"bycatch"_ dari pesut, lumba-lumba, dan beberapa mamalia laut lainnya sebesar 70-90%. Di Indonesia sendiri, pengalaman nelayan bertaraf kecil memakai Gilnet hanya untuk makan sehari-hari, tidak diperuntukan untuk bisnis dan berkapasitas hingga ribuan ton.

Perikanan alat tangkap Gillnet di wilayah Indonesia, nelayan belum memakai pingers dan memang tidak mengerti. Apalagi di alat gillnet versi KKP RI sendiri tidak memiliki pingers. Kalau saja menerapkan Gilnet secara keseluruhan, maka harus ada pingers sebagai pengingat mamalia laut untuk tidak terjaring Gillnet. Akan tetapi, hal itu akan sedikit kemungkinan bisa dilakukan oleh pemerintah, mengingat mereka nafsu-nafsu dalam realisasi program tanpa assessment dampak terlebih dahulu, sehingga program kementerian banyak menimbulkan keresahan sosial yang tinggi.

Di konvenan PBB tahun 1992 sendiri sudah mengingatkan kepada seluruh Negara agar mematuhi prinsip kemanusiaan dan menegakkan peraturan untuk melarang Gilnet serta mengatur alat tangkap yang diluar mekanisme Gilnet, sehingga ada balances antara kebijakan dengan kebutuhan masyarakat.

Berkat perhatian media negatif diseluruh Negara di dunia bahwa berbagai latar belakang kelompok konservasi laut sudah mendapat korelasi kepatuhan yang semakin membaik. PBB dan Uni Eropa juga mewajibkan penggunaan pingers untuk alat tangkap Gillnet tertentu, namun banyak negara belum menerapkan peraturan ini. Indonesia, tentu tidak harus memakai Gilnet karena bersifat menjaga kelestarian laut sebagai poros maritim.

Para ilmuwan juga mengembangkan teknologi baru untuk mengurangi penangkapan kura-kura laut di Gillnet. Salah satu solusi yang menjanjikan adalah menempatkan lampu LED pada Gillnet sehingga memungkinkan kura-kura laut untuk melihat jaring dan bisa menghindarinya. Padahal, spesies ikan yang coba ditangkap nelayan mungkin tidak bisa melihat lampu.

Seorang mantan analis makanan laut Safina Center, Jesse Senko, dan rekan-rekannya telah menguji keefektifan lampu ini dalam mengurangi penyu sisik di laut Baja California. Hasil awal menunjukkan bahwa menerangi Gillnet dapat mengurangi _"bycatch of loggerhead"_ dan penyu hijau sebesar 40-60%.

Hasilnya juga menunjukkan lampu ini bisa mengurangi jenis lain dari spesies, sekaligus meningkatkan tangkapan target. Para ilmuwan menguji keefektifan modifikasi alat tangkap Gillnet di Peru, Chile, Brazil, dan Indonesia sendiri. Para ilmuwan juga terus mempelajari modifikasi lain untuk mengurangi penyu sisik, seperti jaring buoyless.

Cara lain untuk mengurangi "bycatch" termasuk membatasi penangkapan ikan Gillnet di daerah tertentu yang cenderung memiliki potensi "bycatch", membatasi kedalaman yang dapat memancing nelayan, membatasi panjang dan atau kedalaman jaring, yang mengharuskan nelayan untuk periksa Gillnet secara simultan, dan menetapkan batasan keras pada jumlah spesies non-target yang diizinkan untuk dibunuh oleh nelayan.

Untuk mengurangi jumlah kerusakan Gillnet bawah pada habitat laut, para pemimpin Negara didunia sudah melarang keras penggunaan Gilnet atau dibatasi penggunaannya di habitat yang rentan seperti terumbu karang atau tempat spons.

Alat tangkap Gillnet di seluruh dunia memiliki dampak buruk pada satwa lautan besar, seperti paus, lumba-lumba, kura-kura laut, burung laut, dan hiu. Mengingat bahwa spesies ini sangat penting bagi ekosistem laut dan banyak yang terancam atau terancam punah, kita harus memastikan bahwa kita mengambil tindakan untuk mengurangi dampak negatif ini.

Para pemimpin dunia diberbagai negara harus segera mengambil tindakan untuk mengurangi jumlah satwa liar laut yang rentan dalam tangkapan jaring insang (Gilnet), termasuk yang memerlukan dan menerapkan penggunaan modifikasi teknologi perlengkapan yang tersedia.

Terlalu banyak Negara, termasuk Indonesia belum mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi "bycatch" atas bahayanya Gilnet yang bisa mendatangkan bencana bencana masa depan manusia. Seperti disebutkan sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang penangkapan ikan jaring hanyut skala besar di laut lepas pada tahun 1991. Sejak saat itu, beberapa negara lain telah membatasi penggunaan Gillnet di lepas pantai.

Saat saya menulis ini, dengan pengalaman menjadi nelayan waktu kecil dan pernah berprofesi sebagai ABK kapal ikan, maka saya berpikir - mungkin inilah saatnya untuk menghapus penggunaan Gillnet besar di semua wilayah lautan. Bukankah banyak cara nelayan Indonesia untuk menangkap ikan dengan tidak membahayakan mamalia laut?.

Mengganti Gillnet dengan metode yang lebih selektif seperti paying dan cantrang akan mudah dan tidak akan memakan waktu karena langsung diterapkan. Ini akan membutuhkan kolaborasi antara ilmuwan, nelayan, dan menteri. Demi menyelamatkan satwa laut kita dari cengkeraman Gilnet dan membahayakan masa depan generasi manusia Indonesia. Apalagi Gilnet mengancam nyawa setiap insan mamalia laut, maka sepertinya jalan yang tepat ke depan untuk dikejar adalah menghapus Gilnet dan menghukum para pemangku kebijakan yang melegalkan Gilnet.

Rusdianto Samawa, adalah Aktivis Front Nelayan Indonesia (FNI), Lembaga Bantuan Hukum Nelayan Indonesia (LBH-NI) juga merupakan anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.‎


Foto: google
Don't Miss