Responsive Ad Slot

Termenung di Kamar Pribadi, Bupati Terpilih di Aceh ini Tolak Tempati Pendopo Mewah

Jumat, 21 Juli 2017

Mengenakan kemeja biru dongker lengan pendek, dengan kacamata bergelantungan di lehernya, Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) terpilih Akmal Ibrahim termenung di satu sudut bangunan jumbo seukuran 4.425 meter persegi. 

Sesekali matanya tampak sibuk memperhatikan setiap sisi gedung megah yang berdiri di atas tanah yang cukup luas, mencapai empat hektar itu.

Ada tujuh tiang menjulang tinggi di teras depan dengan dua kubah mengapit di kiri kanannya. Tampak megah bak istana raja-raja. Berdiri sangat kontras dengan kondisi masyarakat setempat.




Asal tahu saja, bangunan ini adalah proyek multiyear yang dikerjakan oleh PT Brahmakerta Adiwira dan konsultan Pengawasnya PT Mataram Design Konsultan berlokasi di Desa Lhueng Tarok, salah satu pedalaman kecamatan Blangpidie.

Jika ditelusuri dalam gedungnya, di ruangan bahagian depan terdapat ruang tamu dan ruang kerja bupati yang luasnya lumayan besar. Di bagian kirinya ada private area; ruang keluarga atau tempat tinggal bupati.





Sementara di bagian kanan merupakan ruang inap tamu.  Di belakangnya, ada ruang makan tamu dan tempat acara. Ditambah ruang tengah tempat bupati duduk menjamu tamu. Lengkap.

Sekira tiga pekan lalu, Kamis (6/7), gedung yang bercat serba putih ini baru saja diresmikan Bupati Aceh Barat Daya Jufri Hasanuddin sebagai rumah dinas bupati, alias pendopo.

Sayangnya, gedung putih yang menghabiskan anggaran mencapai Rp24 milyar itu ternyata enggan dihuni Bupati terpilih saat ini, Akmal Ibrahim. Dia merasa tidak sepantasnya menghuni bangunan semewah itu.

Ia meminta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat untuk mengalihfungsikan pendopo berukuran jumbo itu sebagai tempat perkantoran saja.

"Makasih dewan yang menyetujui istana ini jadi kantor, sebab mimpi kita adalah sebagai pemimpin, bukan raja," ungkapnya di Facebook.

Ada 15 anggota DPRK Abdya yang diajaknya untuk menengok pendopo baru itu. Para wakil rakyat tersebut berkeliling luar dalam, depan hingga belakang pendopo. 




Meski sudah diresmikan, gedung yang dari depannya tampak megah ini ternyata belum 100 persen selesai dikerjakan. Sebagian memang sudah berlantaikan mar-mar, namun di ruangan lainnya masih berlantaikan tanah. Kerangka kayu dan tiang penyangga juga masih berserakan di ruang belakang. Tampak tiang-tiang dengan besi yang masih mencuat keluar, tanpa dinding, dan masih beratapkan langit.

Bangunan pendukung lain seperti akses jalan menuju pendopo juga masih berbatu, pagar bangunan juga belum ada. Tanah liat berbatu penuh rerumputan menghiasi halaman istana ini.

Ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Abdya Harmansyah mengaku heran, kenapa Bupati Jufri begitu tergesa-gesa meresmikan bangunan yang masih setengah jadi itu.

"Saya sampaikan saat itu peresmian pendopo terlalu dipaksakan. Maaf saya curi kalau Jufri hanya ingin mengejar tanda tangan di batu prasasti saat peresmian. Menyedihkan," kesalnya.







Namun bukan itu yang menjadi alasan Bupati terpilih Akmal ogah menghuni bangunan jumbo ini. Saat dirinya menjabat  sebagai Bupati di periode 2007-2012 silam, Ia juga enggan menempati rumah dinas Bupati. Akmal lebih memilih tinggal di rumah pribadinya yang terletak di kaki bukit Desa Guhang.

Selain itu, dengan nada bercanda Ia juga mengaku khawatir romantisme keluarganya akan terganggu jika tinggal di pendopo yang bercat serba putih mirip bak  White House di Amerika Serikat.

"Ha-ha-ha-... Cita-cita lama dulu, saya mimpikan sebuah rumah kecil nan romantis, sehingga keluar masuk kamar dalam rumah, selalu bersentuh bahu dengan istri dan anak," tuturnya.

Tak hanya itu, Akmal juga mengaku bingung bagaimana caranya memanggil istri dan anak-anaknya, jika antar kamar dan ruangan besar yang letaknya cukup berjauhan.

"Dengan kamar-kamar seluas ini, sekat dan pintu yang semua terkoneksi, kalau saya memanggil istri atau anak, apa harus pakai mik, HT (Handy Talky), loudspeaker, atau harus teriak2. Hahahahah... Bagaimana bisa romantis lagi," candanya. (*)




Foto: Facebook
Don't Miss