Responsive Ad Slot

Curhat Pejabat ini Sebut Ada Rasuah di Istana dan Liburan Peri ke Antartika

Minggu, 29 Oktober 2017

Kepala Dinas Perumahan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Azhar Anis, ST, mengupas curahan hati (curhat), tentang dinamika yang sedang dialaminya yakni bawahan nya telah diancam oleh yang disebut 'PAK BOS'. Curhat tersebut dituju kepada mantan atasan nya, Sabtu malam (28/10/2017).

Pak Bos maksud Kadis Perkim dan LH Abdya disini merupakan mantan Bupati Abdya, Jufri Hasanuddin, bahwa ia merasa Pak Bos nya tersebut telah mengancam bawahan di dinas yang ia jabat saat ini. Bahwa apapun yang ia dan bawahan nya lakukan sudah sesuai dengan data dan fakta di lapangan.

"Maaf PAK BOS, saya hanya menyampaikan kebenaran berdasarkan data dan fakta lapangan, bukan untuk mencari muka supaya tetap dalam jabatan atau mau jadi pahlawan kesiangan," kata Kadis Perkim dan LH Abdya, Azhar Anis, ST.

Akan tetapi PAK BOS, lanjutnya, "Hal ini saya sampaikan karena PAK BOS telah menyalahkan bawahan saya. Selaku atasan saya wajib bertanggung jawab atas tindakan bawahan sepanjang tindakan itu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," sebutnya.

Kadis Azhar juga mengatakan hal yang sebenarnya, artinya, Azhar bukan mengkianati jabatan yang pernah dipercayakan Jufri saat menjadi Bupati Abdya lalu, akan tetapi, ia ingin memperjelas duduk permasalahan, sehingga tidak ada orang yang dikorbankan dalam persoalan tersebut.

"Atau saya harus sampai kan kepada Komite Pendengar Kecurangan (KPK) biar terang benderang permasalahan nya," sambung Kadis Azhar.

Mantan Kadis Perhubungan Abdya ini juga mengatakan akan membuka tentang rasuah-rasuah di lingkup pendopo saat Jufri jabat Bupati, serta tentang seorang peri cantik yang ikut berlibur keluar negeri saat itu.

"Atau apa perlu saya ceritakan kisah dongeng tentang tikus-tikus rakus yang gemuk-gemuk di lumbung padi istana, tentang gajah-gajah mana saja yang telah mengobrak-abrik kebun tetangga, tentang babi hutan yang makan batu gajah, atau tentang peri cantik berlibur dengan raja ke negeri antartika?," ancam nya.

PAK BOS, tambah Azhar, "Bawahan saya itu dia tidak sendiri, dia punya keluarga, punya istri dan anak, saya tak akan biarkan bila dia PAK BOS salah kan apalagi PAK BOS korban kan, saya di depan untuk berhadapan dengan PAK BOS," ujarnya.

Kepada mantan atasannya Azhar juga sudah mengingatkan, bahwa agar berhati-hati mengenai informasi dari pihak Komite Pendengar Kecurangan (KPK) tentang tindak pidana korupsi itu ada tujuh kelompok yakni, Penyalahgunaan Wewenang, Penggelapan,  Suap Menyuap, Pemerasan, Perbuatan Curang, Gratifikasi dan Benturan Kepentingan Dalam Pengadaan.

"PAK BOS dengan dusanak kan sudah masuk dalam kategori itu, saya kan sudah ingatkan jangan gegabah dalam berbicara, tapi apa boleh buatlah memang tabiat PAK BOS hobby nya ngomel-ngomel," ungkap Azhar Anis.

Tak hanya itu, Kadis Azhar juga mengembalikan memori ingatan mantan atasannya tersebut, dimana, ia sudah mengorbankan dirinya demi menyelamatkan atasannya kala itu berserta keluarga nya, dalam hal adanya pekerjaan fiktif yang tidak dikerjakan, namun, disebutkan Azhar, dalam rentan waktu 1,5 tahun pekerjaan tersebut selesai dikerjakan.

"PAK BOS kan masih ingat? atau PAK BOS sudah lupa bagaimana pengorbanan saya menerjang badai dan di hantam gelombang untuk menyelamatkan PAK BOS  dan dusanak. Masih ingatkan PAK BOS? Kalau PAK BOS sudah lupa saya coba mengembalikan ingatan PAK BOS dengan update sedikit, waktu kita selesaikan pekerjaan fiktif itu.... Satu tahun setengah saya mengerjakan nya PAK BOS, di hadang oleh berbagai kalangan, berbagai kepentingan, di goreng-goreng saya seperti nasi basi, anggaran tidak ada karena sudah habis dibawa ke Betawi," tutur nya.

Namun setelah pekerjaan itu selesai dikerjakan, ia tak pernah berharap imbalan dari mantan atasan dan keluarganya. "Alhamdulillah laksanakan pekerjaan nya PAK BOS, apa pernah saya minta balas jasa sama PAK BOS dan dusanak? apa pernah PAK BOS memperhatikan kebutuhan saya selaku manusia biasa yang penuh kekurangan? Sebatang rokok pun tak pernah PAK BOS belikan untuk saya, apalagi dusanak PAK BOS makan siang saja saya yang traktir, alahom..bo ala la," ungkap Kadis ini.

Dikatakan nya lagi, bahwa ia bukanlah ingin mencari muka pada atasan saat ini, juga tak terima dikatakan pengkhianat demi sebuah jabatan, sebab, ia akui tak pernah mengemis jabatan pada masa mantan atasan nya menjadi kepala daerah di Breuh Sigupai itu. Walaupun dikatakan nya, Azhar ikut serta memenangkan Jufri Hasanuddin pada Pilkada tahun 2012 lalu, hal ini pun disebabkan abang Azhar sebagai Panglima Wilayah (eks Panglima GAM).

"Dan jangan lagi PAK BOS atau dusanak bilang saya berkhianat untuk mencari jabatan. Apakah pernah semasa PAK BOS saya meminta dan mengemis jabatan? Walaupun saya ikut serta membantu PAK BOS untuk bertahta pada 2012, saya membantu PAK BOS itu kan karena saya menghormati dan patuh kepada abang saya selaku Panglima Wilayah,  tapi apa yang PAK BOS buat setelah bertahta, abang saya selaku Panglima Wilayah tega PAK BOS khianati," ungkit Azhar Anis.

Kadis Perkim dan LH Abdya ini juga mengakui, bahwa ia selama Bupati Abdya Jufri Hasanuddin tak pernah diberikan jabatan, hal tersebut hanya disebabkan karena memberi masukan tentang penganggaran di TAPK kepada mantan atasannya itu, juga karena ia mundur dari panitia lelang.

"Mungkin PAK BOS tidak tau ya bahwa saya merupakan pegawai pertama bersama tujuh belas pegawai lainnya sering disebut tim delapan belas yang di perintahkan pulang ke negeri sigupai oleh Bupati kabupaten induk pada Agustus 2002 untuk mensukseskan Peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2002 di negeri sigupai pada masa konflik RI-GAM, dan dari hari itu sampai malam ini saya tetap di negeri sigupai bersama di kampung halaman. PAK BOS tidak tau kan bahwa saya dari pertama jadi pegawai sudah memegang jabatan strategis mulai dari Bendahara Proyek, Pimpro, Pemegang Kas/Bendahara Pengeluaran di Dinas Pekerjaan Umum, Kasi Pemeliharaan Prasarana Wilayah, Kabid Cipta Karya, Kabid PP Sapras Bappeda, semua jabatan itu bukan di masa PAK BOS bertahta," kisah Azhar mengulang cerita tahun 2002 silam.

Setelah berguling-guling, lanjutnya, "Saya PAK BOS sepak, PAK BOS berikan saya jabatan karena sudah ada permasalahan hukum di jabatan itu, setelah tiga orang pejabat nya berturut-turut PAK BOS pecat karena PAK BOS anggap tidak mampu mencerna ngomel-ngomel nya PAK BOS," timpa Kadis Azhar.

Pengakuan nya, jabatan yang diberikan mantan atasannya ini merupakan yang sudah banyak permasalahan, sehingga ia harus berhadapan dengan hukum.

"Setelah selesai saya melaksanakan arahan, PAK BOS berikan pula saya pada jabatan sekarang yang begitu kompleks vitaminnya. Saya ini sudah seperti kelinci selamat dari mulut buaya diterkam sama harimau," kata Azhar.

Azhar juga berharap, dengan persoalan yang saat ini terjadi, jangan sampai hingga ia semakin bertambah dosa, tapi, ia lebih senang jika jabatan yang saat ini ia emban dicabut sekarang juga. Karena, dengan jabatan tersebut, Azhar sudah tak sempat lagi bersama keluarga, melakukan silaturahmi dengan saudara, serta hubungan dengan sahabat semakin jauh.

"PAK BOS, saya bersyukur sekali bila esok dicabut dari jabatan saya sekarang, capek sekali sudah saya PAK BOS. Karena akibat dari jabatan itu sudah banyak para sahabat yang meninggal kan saya PAK BOS, karena jabatan hubungan silaturahmi saya banyak terputus, karena jabatan jiwa sosial saya sudah pudar, karena jabatan saya makin jauh dengan sanak keluarga dan jiran tetangga, karena jabatan istri dan anak-anak sering saya tinggalkan," tuturnya.

Kadis Azhar juga menyatakan, kesuksesan tersebut bukan karena atasan, namun karena dukungan keluarga dan sahabat, juga tentang kebahagiaan, dikatakan nya jangan diukur dengan materi, sebab hal tersebut tak mungkin dapat dibeli.

"Sekian dulu lah curhat saya, moga PAK BOS nggak ngomel-ngomel lagi, karena kalau PAK BOS masih ngomel-ngomel terus terpaksa saya curhat lagi. Sebenarnya saya malas dan tidak mau curhat-curhatan dan tidak tau mau curhat sama siapa, terpaksa lah curhat sama POHON SAGU....," jelasnya.

Curhat kepada pohon sagu ternyata, dikatakan Azhar karena pohon sagu yang memang besar, namun beberap tahun ini pohon ini tak pernah lagi memiliki buah, sehingga ketika orang membutuhkan, buah pohon sagu yang sering disebut buah rumbia ini terpaksa harus dicari ketempat lain.

"Kenapa saya curhat nya sama POHON SAGU? karena saya sebel sama POHON SAGU, batang nya saja yang besar berbuah tak pernah. mau buat rujak saja harus impor buah Rumbia dari negeri tetangga," katanya.

"PAK BOS,,,, TETAPLAH TERSENYUM," tutup Kadis Perkim dan LH Abdya, Azhar Anis, ST.



MUHAMMAD TAUFIK
Don't Miss