Responsive Ad Slot

PAM Kembali Gelar Indonesia-Malaysia Symposium on Southeast Asia Studies (IMSSEAS) 2017

Minggu, 10 Desember 2017

Perhimpunan Alumni Malaysia (PAM) kembali menyelenggarakan Indonesia-Malaysia Symposium on Southeast Asia Studies (IMSSEAS), acara yang diadakan pada tanggal 8-9 Desember 2017, dipusatkan pada Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Sedangkan tahun lalu, Universitas Trilogi Jakarta yang menjadi tempat penyelenggara.

Kali ini PAM menggandeng Persatuan Alumni Perguruan Tinggi Indonesia(PAPTI), serta mengundang Dr.Asep Saifuddin sebagai keynote speaker pertama, selaku Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, dengan memaparkan "Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Dunia Milenial". Yang mana, semua kegiatan dan seluruh transaksi kedepannya akan bermigrasi ke dunia digital dan kripto transaksi. Sedangkan keynote speaker kedua, diisi oleh Dr.Chandra Setiawan (komisioner KPPU RI) dengan tema "Persekongkolan Tender dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Dalam Pengadaan Barang/jasa Pemerintah".

Selanjutnya, dalam seminar kebangsaan ini juga kembali membahas status generasi milenial dengan mengangkat judul "Mahasiswa Ditengah Pusaran Faham Radikalisme dan Tantangan Ideologi Transasional", dengan pembicara Dr.Chandra Setiawan, Muhammad Sofi Mubarak dan Dr. Ainur Rofiq Al Amin. Kesimpulannya adalah, mudahnya radikalisme menyebar  disebabkan karena lunturnya rasa nasionalisme, dan krisis identitas terhadap generasi muda sekarang ini. Begitu juga perkembangan radikalisme, dengan melakukan kamuflase yaitu menunggangi hal-hal yang sedang terjadi.

Symposium IMSSEAS diselenggarakan bertepatan dengan pelantikan pengurus PAM Kuala Lumpur, yaitu dengan memberikan mandat kepada Zulhilmi Zulkifli yang ditunjuk sebagai ketua PAM Kuala Lumpur, alumni dari International Islamic University Malaysia (IIUM), yang juga langsung dilantik oleh Ketua Umum PAM Nasional Sabela Gayo disela-sela acara.

Zulhilmi yang diwawancara melalui telepon usai dilantik mengungkapkan, secara pribadi dirinya mengucapkan terima kasih kepada ketua umum, yang telah percaya terhadap dirinya sebagai pemegang mandat di negeri Jiran. Dia berharap, kedepan PAM tidak hanya menjadi simbol, namun bisa memposisikan dirinya sebagai Agent of Change (Agen Perubahan), yaitu perubahan ke arah yang positif.

"Ungkapan pertama terima kasih, karena sudah dipercaya menjadi PAM di Kuala Lumpur, yang kedua saya ingin, kedepan PAM bisa bahu membahu dalam membangun dan mengajak seluruh elemen masyarakat dalam membuat perubahan ke arah yang positif, jangan nanti PAM ini hanya jadi simbol usai pelantikan, yang ketiga saya berharap PAM sebagai tulang punggung utama dalam setiap gerakan perubahan, intinya ini tanggung jawab kita bersama, ke arah mana PAM ini kita bawa kedepannya," tutupnya.
Don't Miss