Responsive Ad Slot

Pemuda Palestina Korban Kebiadaban Israel Terus Berjatuhan

Rabu, 17 Januari 2018


Batu dibalas dengan rentetan tembakan. Bahkan bukan peluru karet, tapi peluru tajam yang digunakan untuk melawan. Konflik yang sudah berjalan lima dekade ini memang tak pernah adil. Di tiap-tiap penjuru tembok perbatasan yang memisahkan Israel dan Palestina, perlawanan itu pun selalu berlangsung sengit.

Walau sengit, tapi tak pernah imbang. Puluhan sampai ratusan anak muda Palestina meluapkan emosinya dengan melawan militer atau polisi Israel. perlawanan pemuda Palestina itu tak imbang. Serdadu Israel bersenjata lengkap, dengan tameng dan senjata canggih.

Ketika peluru tajam sudah dilepaskan oleh serdadu-serdadu zionis Israel itu, darah mengucur, ambulans bergegas. Rumah sakit di Gaza, di Yerusalem, atau di Tepi Barat kedatangan lagi pasien pemuda Palestina yang terluka ditembus peluru Israel. Kalau Allah SWT sudah berkehendak, satu lagi pemuda Palestina wafat, syahid membela negaranya, membela kemerdekaannya.

Yang terbaru, kabar datang dari Tepi Barat. Ahmad Salim, pemuda Palestina berumur 24 tahun dilaporkan tertembak peluru serdadu Israel kala terjadi bentrokan antara anak muda Palestina dengan militer Israel di wilayah Jayous, Qalqaliyah Timur, Tepi Barat.

Melansir Kantor Berita Palestina Wafa juga Al Jazeera, Salim tertembak tepat di kepala. Ambulans pun melarikan Salim ke Rumah Sakit Qalqaliyah’s Darwish Nazzal. Namun, nyawa Salim tak terselamatkan. Salim menghembuskan napas terakhir sesaat setelah tiba di rumah sakit.

Sampai tulisan ini diunggah, belum ada kabar lebih lanjut tentang perkembangan penembakan atas Salim. Namun, Kementerian Kesehatan Palestina sudah mengonfirmasi tentang wafatnya Salim, anak muda Palestina asal Qalqaliyah, Tepi Barat, Palestina.
Salim adalah anak muda Palestina ke-lima yang terbunuh karena peluru serdadu Israel dalam satu bulan terakhir. Empat lainnya adalah Musab Firas al-Tamimi (17 tahun), pemuda Palestina dari sebuah desa di Deir Nitham, dan dua orang remaja yang masing-masing terbunuh di Kamp Pengungsian Bureij di Gaza, dan di sebuah desa bernama Burin di Nablus, Tepi Barat serta Sharif Shlash pemuda Gaza berusia 27 tahun yang terbunuh 17 Desember 2017.

Sharif, termasuk pemuda Gaza yang tangguh. Ia bergabung bersama pemuda Gaza lainnya untuk terus melawan. Eskalasi perlawanan makin sengit ketika status Yerusalem sebagai ibu kota Palestina diusik akhir Desember lalu.

Suatu hari, Ahad 17 Desember 2017 lalu, Sharif bergabung dalam sebuah aksi perlawanan di perbatasan Gaza. Aksi membela Yerusalem itu berlangsung di pinggiran tembok perbatasan antara wilayah Jabalia Timur Gaza dan Israel. Dalam aksi itu pun, Tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza sempat mengiringi pemuda Gaza dengan memberikan dukungan ribuan paket makanan.

Bahkan, dalam sebuah foto yang sempat diabadikan relawan ACT di Gaza, Sharif Shlash termasuk dalam satu dari ribuan pemuda Gaza yang mendapatkan bantuan paket makanan dari Dapur ACT di Gaza.

Hari itu, 17 Desember perlawanan berlangsung makin sengit, batu dibalas dengan senjata. Sampai akhirnya sebuah peluru timah panas itu menembus perut Sharif, pendarahan hebat deras keluar dari perutnya. Kebetulan, rumah sakit terdekat adalah Rumah Sakit Indonesia. Sharif dilarikan segera ke rumah sakit.

Kepada relawan ACT di Gaza, istri Sharif sempat bertutur bahwa suaminya tanggal 17 Desember lalu berpesan, “hari ini, saya mendengar di tembok perbatasan nanti akan ada bantuan makanan dari saudara-saudara Indonesia. Saya tak menyangka Indonesia selalu ada untuk mendampingi kita dalam memperjuangkan hak-hak kita atas kemerdekaan Palestina,” ungkap istri Sharif menirukan perkataan suaminya di hari 17 Desember itu saat ditemui relawan ACT dalam proses pemakaman Sharif.

Kini, Sharif Shlash telah syahid. Resmi sudah bergabung dalam tim paling elit di sisi Allah SWT. Tim yang berisi mereka para pejuang tangguh yang wafat syahid karena membela tanah airnya, membela bangsanya.

Dari tanah Gaza, Palestina, kisah tentang darah, amuk, amarah bahkan nyawa yang syahid tak pernah berhenti bergemuruh. Hari-hari di Gaza adalah bertahan hidup sembari melawan. Perlawanan tak henti ditunjukkan oleh ribuan bahkan puluhan ribu anak-anak muda Gaza, setiap harinya.

Bagi mereka, bergabung untuk melawan penjajahan Zionis Israel serupa dengan bergabung dalam tim elit. Sebuah tim elit yang berani mati, berani syahid atas nama Allah. Tim elit ini merupakan gabungan ribuan pemuda Gaza yang melawan. Perlawanan ditunjukkan di ujung tembok perbatasan yang memblokade Gaza selama sekian dekade terakhir.

Perlawanan antara batu dibalas dengan peluru, gas beracun, bahkan granat yang dilempar oleh serdadu Israel.

Ketika darah dan nyawa telah syahid, purna sudah tugas. Dengan Takbir, ribuan anak muda Gaza merekam cerita yang sama, tentang syahid dalam membela kemerdekaan bangsanya, bangsa Palestina.

Tapi, perjuangan masih belum usai. Sekian tahun berlalu Palestina masih tetap terjajah. Setiap harinya, masih ada anak-anak muda Palestina lain yang syahid karena melawan.
Hari-hari di Januari 2018 terus berjalan, setiap pergantian malam berarti perjuangan baru bagi jutaan warga Palestina. Kemerdekaan terus diperjuangkan meski nyawa menjadi taruhan. Eskalasi konflik terus meningkat demi menjaga hak atas Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Seperti yang pernah dikatakan Yahya, seorang anak muda Gaza yang ditemui ACTNews awal Januari kemarin. Ia berkata, anak-anak Palestina terutama mereka yang berasal dari Gaza sudah sejak dini menghabiskan masa mudanya, untuk berjuang menuntut kemerdekaan. “Jika kami masih bermain, menurut kami ini merupakan suatu pengkhianatan. Sebab, tak ada yang lebih penting selain berjihad,” tegas Yahya.
Don't Miss