Nasib Malang Aisyah di Mata Pemerintah Abdya

Aisyah, umur 44 tahun, warga gampong Seuneulop kecamatan Manggeng kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), ternyata, ibu dari tiga anak ini be...

Aisyah, umur 44 tahun, warga gampong Seuneulop kecamatan Manggeng kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), ternyata, ibu dari tiga anak ini benar-benar luput dari perhatian pemerintah, pasalnya, sejak setelah menikah dengan suaminya Mustafa (48), mereka masih menempati gubuk reot bersama anak-anaknya hingga saat ini, Kamis (10/8/2017).

Pengakuan Aisyah, pendataan terhadap rumahnya, baik dari dinas sosial, camat maupun kepala desa setempat, hal tersebut sudah sangat sering dilakukan, mulai semasa anaknya yang sulung Rozah Liana masih berusia 8 bulan, hingga akhir-akhir ini hal itu masih saja dilakukan oleh pihak-pihak terkait, namun realisasinya tak pernah dirasakan Aisyah.

Tak sanggup menahan rasa pilu, Aisyah tak sadar air mata nya menetes di kedua belah pipinya saat menceritakan perjalanan kehidupan nya yang penuh lika liku, sebab, suaminya yang berprofesi sebagai buruh lepas itu, kini di negri jiran, sebab, beberapa kali usaha yang di coba jalankan tidak berhasil, akhirnya, suaminya Mustafa memutuskan mencari nafkah sebagai buruh bangunan di Malaysia.

"Masa kecil Rozah, ayahnya bekerja sebagai mugee (penjual ikan), ambil ikan ke Labuhan Haji, Aceh Selatan, menggunakan sepeda dayung, " terang Aisyah.

Merasa tidak nyaman dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, dan menjaja ikan nya pun tak optimal, mereka memutuskan untuk mencari sepeda motor agar lebih mudah, namun hal tersebut juga tidak berjalan sesuai harapan, dan kembali beralih profesi dengan menjual jagung bakar, tapi hal tersebut tak bertahan lama karena hanya bermodal sedikit, alhasil, Mustafa pamit untuk mengadu nasib ke negri sebrang.

"Selama disana pun (Malaysia) hanya mampu mengirim biaya seadanya , karena toke (pengusaha) sering membohongi upahnya, "ulasnya.

Kini, Aisyah harus melawan keadaan yang sedang digelumuti nya tersebut, hal itu demi terpenuhi kebutuhan rumah tangga dan jajan sekolah anaknya, ia membuka kebun sayur di tanah milik PT. PLN (Persero) yang tak jauh dari tempat tinggalnya, dari hasil kebun tersebut lah Aisyah memberi makan dan kebutuhan sekolah anak-anaknya.

"Hasil jual sayur cukup untuk makan dan kebutuhan sekolah anak, penghasilan sehari dari itu paling banyak Rp. 15.000/hari, "ucapnya.

Lebih lanjut Aisyah juga menceritakan tentang bantuan rumah atau dana rehab dari pemerintah, pada saat ia menceritakan hal ini, matanya kembali berkaca-kaca, sebab, mengingat bantuan yang di iming-imingkan tak pernah sampai ditangan nya, sedangkan orang lain sudah dapat menikmati bantuan tersebut, karena ketika ditinjau dan di ambil gambar rumahnya, bersamaan dengan yang lainnya.

"Malah yang sudah menerima bantuan tersebut pun, baik itu dana rehab maupun bangun dari dasar lebih mampu dari saya, "ujarnya.

Sejak 19 tahun silam itulah, Aisyah bersama keluarganya menjalani kehidupan dalam gubuk yang serba kekurangan, selain tempat nya sempit, rumah berlantai tanah, dinding papan sudah lapuk, juga beratap rumbia yang sudah dimakan usia, dan sangat memprihatinkan, sehingga ia bersama anak-anaknya sering terpaksa mengungsi ke rumah saudara  dikala hujan deras melanda.

Kini ia hanya bisa pasrah, sebab harapan ia selama ini kepada pemerintah agar kehidupan nya dapat diperhatikan, namun bak seperti anak tiri yang tiada dianggap, apalagi selama ini ia ketahui banyak rumah bantuan dari pemerintah, tapi Aisyah tak pernah mendapatkan jatah.

"Baru-baru ini datang lagi orang dinas foto-foto rumah saya, saya katakan tak usah lagi di foto, sudah banyak yang foto-foto saja, tapi masih juga begini, " kata Aisyah.

Pemerintah  Abdya, melalui Dinas Sosial (Dinsos) sepekan lalu menyalurkan Rumah Sehat Sederhana (RSS), kepada kaum dhuafa sebanyak 95 unit yang tersebar di tiga kecamatan, yakni kecamatan Lembah Sabil sebanyak 33 unit, kecamatan Setia sebanyak 31 unit dan kecamatan Babahrot sebanyak 31 unit, dalam hal ini pembangunan RSS tersebut dengan APBK Abdya tahun 2016.

Sedangkan sepanjang kepemimpinan Bupati Jufri Hasanuddin, RSS tersebut mulai di bangun tahun 2013 sebanyak 115 unit, tahun 2014 sebanyak 200 unit, tahun 2015 sebanyak 165 unit dan pada tahun 2016 sebanyak 126 unit dengan total keseluruhan mencapai 606 unit.



Muhammad Taufik
Name

Birokrasi Bisnis daerah eksekutif featured foto Hikmah hukum iklan iklan1 ILM Indeks Internasional kebijakan makro mikro Muda nasional opini politik Populi sport
false
ltr
item
IstanaPos.com: Nasib Malang Aisyah di Mata Pemerintah Abdya
Nasib Malang Aisyah di Mata Pemerintah Abdya
https://3.bp.blogspot.com/-Z74BlRdE_Kc/WYxrNy-RnnI/AAAAAAAADx8/RT9sQgoQFzozdCEoKx1iXHnlwksJ3jLOACK4BGAYYCw/s640/IMG-20170810-WA0039-710191.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-Z74BlRdE_Kc/WYxrNy-RnnI/AAAAAAAADx8/RT9sQgoQFzozdCEoKx1iXHnlwksJ3jLOACK4BGAYYCw/s72-c/IMG-20170810-WA0039-710191.jpg
IstanaPos.com
https://www.istanapos.com/2017/08/nasib-malang-aisyah-di-mata-pemerintah.html
https://www.istanapos.com/
https://www.istanapos.com/
https://www.istanapos.com/2017/08/nasib-malang-aisyah-di-mata-pemerintah.html
true
5747322589800627398
UTF-8
Not found any posts Lainnya Readmore Reply Cancel reply Delete By Beranda Halaman POS View All Berita Lain LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat'at Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy